Kamis, 21 Agustus 2014

Awan

Sore tadi saya berjalan-jalan dengan adik saya menikmati angin sepoi-sepoi yang menghembus hamparan persawahan. Kemudian kami melihat ke langit yang disertai awan. Seperti anak yang lainnya dia mengatakan "Kak, lihat itu ada awan yang berbentuk Naga". Kemudian terjadi perbincangan antara kami berdua.
Seketika saya teringat mengenai cerita filosofi awan. Awan yang dengan bentuknya selalu memiliki filosofi.


Awan karena bentuknya yang selalu berubah-ubah harus rela luruh menjadi rintik hujan. Bentuk awan selalu mengikuti hukum alam yang ada. Ia jatuh ke sungai, mengalir ke laut, kemudian menguap ke langit dan kembali lagi menjadi awan. Bukankah titik hujan tak pernah bertanya, kenapa mereka harus meninggalkan tata langit saat jatuh membasahi bukit.


Pelajaran apa yang dapat kita petik dari filosofi tersebut?

Titik air, seperti sebuah usaha yang dilakukan dari berbagai fenomena baik atau buruk, perlahan namun pasti akan menyentuh koridornya yaitu Sang Waktu. Setiap insan pasti mengetahui titik-titik yang mereka kumpulkan dan akan mengenali hujan yang ia bentuk. Entah itu hujan kebaikan, hujan kebatilan, hujan buah karya, hujan buah cinta, maupun hujan yang mereka namai sendiri. Jangan pernah bermain-main dengan setiap apa yang telah kamu lakukan. Titik-titik air itu pasti akan kembali padamu bersamaan dengan hujan dan hadirnya Sang Waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar